Sejarah Kerajaan Sriwijaya Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia Tenggara

Sejak dahulu, Indonesia dikenal sebagai negara maritim, dan ternyata kejayaan Nusantara sebagai negara kelautan sudah dikenal sejak dahulu kala.

Sebagai buktinya, Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas.

Mempelajari sejarah Kerajaan Sriwijaya memang sangat menarik. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari sejarah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia ini, mulai dari awal berdiri hingga keruntuhannya. Untuk mengetahuinya, simak uraian lengkap berikut ini.

1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya

sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
Gambar by: wacananysantara.org

Nama “Sriwijaya” berasal dari kata “sri” yang berarti bercahaya atau gemilang dan “wijaya” yang artinya kemenangan. Jadi, Sriwijaya mengandung arti “kemenangan yang gemilang. Mengingat wilayah kekuasaannya yang sangat luas, nama tersebut memang tepat sekali.

Lalu, kapan Kerajaan Sriwijaya berdiri? Menurut catatan sejarah, Kerajaan Sriwijaya mulai berdiri sejak abad ke-7 Masehi. Hal ini diketahui dari catatan seorang pendeta bernama I-Tsing dari Tiongkok yang pernah berkunjung ke Sriwijaya.

Pada tahun 682, pendeta tersebut sedang mendalami agama Buddha di India dan singgah di Sriwijaya untuk mempelajari bahasa Sanskerta.

Dalam catatannya disebutkan, Kerajaan Sriwijaya didirikan pada tahun 671 dan saat itu dipimpin Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Nama Dapunta Hyang juga disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Dapunta Hyang telah berhasil melakukan ekspansi selama 8 hari dengan membawa kekuatan 20.000 orang tentara.

Sejak saat itu, Kerajaan Sriwijaya semakin makmur dan sejahtera. Dalam perkembangannya. Kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai Pulau Jawa, Sumatra, Kamboja, Semenanjung Malaya, Thailand bagian selatan, dan pesisir Kalimantan.

Dengan dikuasainya wilayah-wilayah tersebut, Kerajaan Sriwijaya pun sukses menguasai jalur perdagangan di wilayah Asia Tenggara.

2. Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Gambar by: dentmasoci.com

Kerajaan Sriwijaya berhasil menjadi kerajaan yang sangat kaya karena berhasil menguasai jalur-jalur perdagangan yang sangat strategis.

Di antara jalur yang dikuasai adalah Selat Malaka, Selat Sunda, dan jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Cina, India, dan Arab.

Selat Malaka dan Selat Sunda tak pernah sepi dari kapal-kapal yang berlayar ke seluruh penjuru dunia.

Dengan mengandalkan kekuatan armada militer, Kerajaan Sriwijaya memberlakukan sistem bea cukai yang saat ini juga diterapkan oleh Indonesia.

Armada militer sangat berperan dalam perekonomian Sriwijaya karena berhasil memberikan jaminan keamanan kepada para saudagar dari Arab dan Cina. Tanpa jaminan tersebut, mereka pasti akan memilih jalur lain yang lebih aman.

Lebih hebatnya lagi, para penguasa Kerajaan Sriwijaya juga menyadari bahwa kekayaan sebuah negara bukan hanya berupa harta. Oleh karena itu, mereka pun giat mengembangkan kebesaran agama Buddha dengan berbagai cara.

Di Kerajaan Sriwijaya, banyak didirikan sanggar atau kelompok belajar serta guru spiritual Buddha untuk memperdalam Buddhisme.

Guru yang dimaksud dalam hal ini adalah pendeta maupun orang yang dinilai memiliki kelebihan. Salah satu guru yang paling terkenal adalah Sakyakirti.

Ada sebuah fakta menarik terkait pengembangan agama Buddha di Sriwijaya. Para ahli menduga, di dekat Palembang, terdapat sebuah candi Buddha yang lebih besar dari Borobudur. Sayangnya, hingga sekarang, baru arcanya saja yang ditemukan.

Bukti bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan yang religius juga bisa didapatkan dari beberapa batu tertuliskan “ziarah yang berhias” di Telaga Batu.

Selain itu, ditemukannya beberapa candi, misalnya Muara Takus, juga membuktikan perhatian besar Sriwijaya terhadap ajaran Buddha.

Bukti lain kejayaan Kerajaan Sriwijaya terdapat pada Prasasti Nalanda (860 M) yang terdapat di India. Prasasti ini menyebut nama Sriwijaya sebagai kerajaan internasional yang sangat peduli terhadap pendidikan.

Ketika Raja Balaputradewa berkuasa, masa keemasan Kerajaan Sriwijaya semakin nyata. Raja Balaputradewa mendirikan asrama pelajar bagi para siswa dari Sriwijaya yang sedang menuntut ilmu di Nalanda, India. Kelak, asrama ini menghasilkan pendeta-pendeta yang disegani.

Di masa pemerintahan Raja Balaputradwa inilah agama Buddha mencapai puncak kejayaannya. Perlu dicatat, Balaputradewa sendiri merupakan putra Raja Samarattungga, seorang keturunan Dinasti Syailendra dari Jawa yang memberikan peninggalan berupa Candi Borobudur.

3. Masa  Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya
Gambar by: goosnewfromindonesia.id

Berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Sriwijaya mulai melemah dan mengalami kemunduran sejak 1178–1225.

Melemahnya kekuatan militer menyebabkan beberapa daerah melepaskan diri. Setelah sekitar 8 abad berdiri, pada abad ke-13, Kerajaan Sriwijaya pun akhirnya runtuh.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan besar ini, di antaranya:

3.1. Serangan Kerajaan Chola

Pada tahun 1017 dan 1025, Kerajaan Chola, India, melakukan serangan ke Sriwijaya yang menyebabkan armada perang Kerajaan Sriwijaya luluh lantak.

Ketika itu, Kerajaan Chola dipimpin Rajendra Chola I, keturunan Dinasti Cholda di Koromande, India bagian selatan.

Kehancuran kekuatan militer Sriwijaya rupanya juga berdampak pada kekuatan ekonominya.

Jalur perdagangan dan perekonomian yang semula dikuasai Sriwijaya jatuh ke tangan Rajendra Chola, meskipun Kerajaan Sriwijaya masih berdiri.

3.2. Munculnya Kekuatan Baru

Setelah kekuatan militer Kerajaan Sriwijaya melemah, muncullah dua kekuatan baru, yaitu Dharmasraya dan Pagaruyung.

Keduanya melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya dan bahkan berhasil menguasai wilayah Sriwijaya di Semenanjung Melayu, Sumatra, dan Jawa Barat.

3.3. Berkurangnya Kekayaan Kerajaan

Jatuhnya jalur perdagangan strategis ke tangan Cina dan India otomatis berdampak pada kekuatan ekonomi kerajaan.

Pemasukan berkurang drastis karena Kerajaan Sriwijaya tidak bisa lagi memungut bea cukai dari para pedagang.

3.4. Ekspedisi Pamalayu

Ekspedisi ini dilakukan atas inisiatif Raja Kertanegara. Pada mulanya, eskspedisi ini bersifat damai dalam rangka menggalang kekuatan kerajaan-kerajaan di Jawa dan Sumatra untuk menghadapi ancaman Kubilai Khan dari Mongol.

Karena berbagai sebab, Ekspedisi Pamalayu kemudian berubah menjadi pertumpahan darah. Peperangan antara Singasari dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra terjadi salama tahun 1275–1286 dan menjadi salah satu faktor penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya.

4. Peta Lokasi Kerajaan Sriwijaya

letak kerajaan sriwiijaya
Gambar by: dentmasoci.com

Hingga saat ini, sebagian orang meyakini bahwa Kerajaan Sriwijaya didirikan tepat di Kota Palembang, Sumatra Selatan. Namun, apakah hal itu benar?

Untuk mengetahui kebenarannya, para ahli sejarah merujuk pada Prasasti Kedukan Bukit.

Berdasarkan tarikh yang tertulis di dalamnya, prasasti ini dibuat pada tahun 683 Masehi. Di dalamnya, disebutkan bahwa bahwa Kedatuan Sriwijaya didirikan pertama kali di tepi Sungai Musi, yang berarti terletak di sekitar Palembang, Sumatra Selatan.

Namun, lokasi pasti Kerajaan Sriwijaya ini masih diperdebatkan oleh para pakar sejarah.

Ada yang berpendapat, Kerajaan Sriwijaya terletak di Muaro Jambi dan Muara Takus. Pendapat ini didasarkan pada hasil observasi dan bukti-bukti yang didapatkan melalui foto udara.

Letak ibu kota Kerajaan Sriwijaya pun belum diketahui secara pasti. Sebagian ahli berkeyakinan bahwa Muara Takus, yang merupakan daerah pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri (Riau), merupakan ibu kota Sriwijaya.

Namun, ahli lainnya memiliki pendapat berbeda. Mereka menyebutkan, ibu kota Kerajaan Sriwijaya terletak di Sungai Musi, yang terletak di antara Bukit Sabokingkin dan Bukit Siguntang, di dekat situs Karanganyar, Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

Raja pertama yang berkuasa adalah Dapunta Hyang, yang berasal dari Minanga Tamwan. Nama Minanga Tamwan sendiri masih banyak diperdebatkan oleh para pakar sejarah dan sampai sekarang belum diketahui secara pasti.

5. Raja-raja yang Pernah Memimpin Sriwijaya

raja-raja yang memimpin kerajaan sriwijaya
Gambar by: dentmasoci.com

Selama berdirinya, Kerajaan Sriwijaya diperintah oleh raja-raja hebat yang berhasil membawa kerajaan ini menuju kejayaan.

Namun, di antara sekian banyak raja yang pernah berkuasa, terdapat beberapa nama yang sangat terkenal.

5.1. Raja Dapunta Hyang

Namanya disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuwo. Raja inilah yang sangat berperan menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang disegani.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga ke Jambi.

5.2. Raja Dharmasetu

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Sriwijaya semakin besar dan wilayah kekuasaannya mencapai Semenanjung Malaya.

Raja ini jugalah yang memperkuat arus perdagangan ke Sriwijaya. Setiap kapal yang berlayar dari Cina maupun India selalu singgah di Sriwijaya.

5.3. Raja Balaputradewa

Pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa inilah Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya. Abad ke-9 menjadi masa keemasan Kerajaan Sriwijaya karena berhasil menjadi sebuah kerajaan besar dan pusat agama Buddha di Asia Tenggara.

5.4. Raja Sri Sudamaniwarmadewa

Ketika Raja Sri Sudamaniwarmadewa berkuasa, Kerajaan Sriwijaya mendapat serangan yang dilakukan Raja Dharmawangsa dari Jawa bagian timur pada tahun 990 M. Namun, serangan itu berhasil digagalkan.

5.5. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman

Di bawah kepemimpinannya, terjadi serangan dari Kerajaan Chola, India dan berhasil merebut sebagian wilayah Kerajaan Sriwijaya.

Bahkan, Raja Sanggrama Wijayattunggawarman menjadi tawanan, meskipun di kemudian hari akhirnya dilepaskan kembali.

6. Sumber-Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Untuk mengetahui sejarah Kerajaan Sriwijaya secara utuh, para ahli pun mengumpulkan berbagai sumber yang bisa memberi keterangan terkait kerajaan ini.

Sumber-sumber tersebut ternyata tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.

6.1. Sumber Sejarah dari Luar Negeri

Kerajaan Sriwijaya memilki wilayah kekuasaan dan hubungan perdagangan yang sangat luas hingga ke India, Cina dan Arab.

Tidak mengherankan, jejak sejarah kerajaan ini pun bisa ditelusuri dari beberapa catatan sejarah yang terdapat di luar negeri, yaitu sebagai berikut.

a. Berita dari Cina

Seorang pendeta Buddha bernama I-Tsing pernah melakukan perjalanan antara Cina dan India untuk menimba ilmu agama Buddha. Dalam perjalanan tersebut, ia sempat singgah di Kerajaan Shi-li-fo-shih atau Kerajaan Sriwijaya selama 6 bulan.

Di Sriwijaya, ia mempelajari bahasa Sanskerta hingga akhirnya, berasama seorang guru Buddhis bernama Sakyakirti, ia mampu menyalin kitab Hastadadasastra ke dalam bahasa Cina. I-Tsing mencatat, Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Buddha dan pelayarannya sangat maju.

Dalam catatannya, I-Tsing juga menyebutkan bahwa pada tahun 682–685, Kerajaan Sriwijaya berhasil menaklukkan daerah Kedah di pantai barat Melayu. Berita Cina lainnya juga menyebutkan, Dinasti Sung telah beberapa kali mengirim utusan dari Cina ke Sriwijaya.

b. Berita dari Arab

Jejak keberadaan Kerajaan Sriwijaya ternyata juga terekam dalam beberapa catatan dari Arab.

Seorang bernama Ibu Hordadheh menyebutkan adanya Raja Zabag yang menghasilkan emas sebanyak 206 kg setiap tahun. Zabag adalah sebutan untuk Sriwijaya dalam bahasa Arab.

Catatan lain menyebutkan, menurut Alberuni, Zabag terletak di Swarnadwipa (Pulau Emas) yang letaknya lebih dekat dengan Cina dan India. Adanya perkampungan berbahasa Arab di Sriwijaya menunjukkan hubungan perdaganan yang baik dengan bangsa Arab.

c. Berita dari India

Dalam Prasasti Leiden Besar yang ditemukan oleh raja-raja Dinasti Chola, disebutkan tentang adanya pembebasan tanah Anaimangalam kepada sebuah biara di Nagipatma.

Biara tersebut dibangun oleh Marawijayattunggawarman yang berkuasa di Sriwijaya dan Kataka.

Keterangan lain ditemukan pada Prasasti Nalanda yang mengisahkan bahwa Raja Dewa Paladewa dari Kerajaan Nalanda membebaskan pajak di lima desa.

Namun, kelima desa tersebut harus membiayai para siswa dari Kerajaan Sriwijaya yang menimba ilmu di Nalanda.

6.2. Sumber Sejarah dari Dalam Negeri

Sumber sejarah dari dalam negeri yang bisa digunakan untuk mengetahui perjalanan sejarah Kerajaan Sriwijaya berasal dari peninggalan-peninggalan kerajaan tersebut.

Terdapat beberapa prasasti berbahasa Melayu kuno yang bisa dijadikan sumber sejarah yang sangat penting.

a. Prasasti Kedukan Bukit (683 M)

Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Talang, di dekat Palembang. Di dalamnya, tertulis kalimat:

“Seorang bernama Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci dengan menggunakan perahu yang berangkat dari Minangatwan dengan membawa 20.000 orang tentara. Dalam perjalanan, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah sehingga kemenangannya berhasil membawa Sriwijaya menjadi makmur. Perjalanan ini memakan waktu delapan hari.”

b. Prasasti Talang Tuo (684 M)

Ditemukan di sebelah barat Palembang, prasasti ini berisi doa-doa dalam agama Buddha.

Selain itu, prasasti ini juga mengisahkan pembuatan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanegara untuk kesejahteraan seluruh makhluk.

c. Prasasti Kota Kapur (686 M)

Di Bangka, ditemukan prasasti Kota Kapur yang berisi permohonan kepada para dewa untuk menjaga keutuhan Kerajaan Sriwijaya dan menghukum siapa saja yang berniat buruk kepada kerajaan ini.

d. Prasasti Karang Berahi (686 M)

Isi prasasti ini kurang lebih sama dengan Prasasti Kota Kapur.

e. Prasasti Telaga Batu (686 M)

Dalam prasasti ini dijelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya berbentuk kerajaan kesatuan. Di dalamnya juga dijelaskan mengenai kedudukan para putra raja. Sayangnya, prasasti ini tidak memiliki angka tahun pembutannya.

f. Prasasti Ligor (775 M)

Prasasti ini ditemukan di Tanah Genting Kra dan terdiri dari dua muka, yang disebut Ligor A dan Ligor B. Catatan pada Ligor A berisikan pujian terhadap leluhur Kerajaan Sriwijaya dan pendiri Buddha Sakyamuni, yaitu Aralukiteswara dan Wajrapani.

Sementara itu, Ligor B berisi gelar atau sebutan Cailendravamsaprabumigadata yang merupakan penakluk para musuh di masa Dinasti Syailendra.

Ligor B juga berisi kabar tentang keberhasilan Kerajaan Sriwijaya dalam menaklukkan Pulau Bangka dan Melayu.

g. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti yang ditemukan di Lampung ini menceritakan kisah penaklukan Kerajaan Tulangbawang yang terdapat di Lampung oleh Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini tidak mencantumkan angka tahun saat dibuat.

7. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

peninggalan kerajaan sriwijaya
Gambar by: muttaqin.id

Sebagai sebuah kerajaan besar, Kerajaan Sriwijaya meninggalkan banyak sekali jejak sejarah yang hingga kini masih bisa dilihat.

Berikut adalah beberapa peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya.

7.1. Candi

Bangunan candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya di antaranya:

  • Candi Kotamahligai;
  • Candi Gumpung;
  • Candi Tinggi;
  • Candi Kembar Batu;
  • Candi Astono;
  • Candi Kedaton; serta
  • Candi Gedong I dan II

7.2. Prasasti

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya adalah:

  • Prasasti Kedukan Bukit,
  • Prasasti Kota Kapur,
  • Prasasti Talang Tuwo,
  • Prasasti Karang Birahi,
  • Prasasti Palas Pasemah, dan
  • Prasasti Telaga Batu.

7.3. Bangunan Lain

Selain candi dan prasasti, Kerajaan Sriwijaya juga meninggalkan bangunan-bangunan lain yang menjadi bukti sejarah keberadaannya.

Di antara bangunan tersebut adalah Situs Muarojambi dan Kolam Telagorajo.

Sebagai bangsa Indonesia, keberadaan Kerajaan Sriwijaya patut menjadi kebanggaan tersendiri.

Kebesaran kerajaan ini seharusnya menjadi pelecut semangat bagi seluruh masyarakat untuk bisa meraih kegemilangan yang sama, bahkan lebih besar lagi.

Baca Cerita Kerajaan Lainnya:

Sejarah Keraan Demak
Sejarah Kerajaan Majapahit
Sejarah Kerajaan Kutai Mulamarwan dan Kutai Kartanegara

Tinggalkan komentar