Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Jauh sebelum penjajah Belanda masuk, banyak sekali kerajaan besar maupun kecil di Nusantara. Salah satu yang paling dikenal adalah Kerajaan Majapahit, yang pernah menjadi kerajaan terbesar di Asia Tenggara.
Sekilas Sejarah Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha yang terakhir menguasai Nusantara dan dinilai sebagai salah satu negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kerajaan ini berhasil menjadi imperium terbesar di abad ke-13 dengan angkatan laut yang sangat kuat.
Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit bermula setelah Kerajaan Singosari runtuh. Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singasari, dan para pengikutnya yang dikejar tentara Kediri berhasil lari hingga ke Madura untuk meminta perlindungan dari Aria Wiraraja.
Raden Wijaya disarankan untuk berpura-pura takluk dan setelah akhirnya mendapatkan kepercayaan, ia meminta sebuah daerah di hutan Tarik. Di tempat inilah, Raden Wijaya mendirikan kerajaan yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya bertakhta sepanjang tahun 1293–1309 dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Ibu kota kerajaan sempat beberapa kali mengalami pemindahan sebagai akibat kebijakan yang diambil oleh penguasa saat itu.
Pada mulanya, Kerajaan Majapahit berpusat di Mojokerto.
Namun, pada era Jayanegara (1309–1328), pengganti Raden Wijaya, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Trowulan. Ibu kota Majapahit kembali berpindah pada masa pemerintahan Girindrawardhana (1456–1466), yaitu ke Kediri.
Masa keemasan Kerjaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk atau Rajasanegara (1350–1389) dengan dukungan Gajah Mada. Kamu pasti masih ingat Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada pada tahun 1336 ketika diangkat sebagai mahapatih.
Saat itu, Mahapatih Gajah Mada bersumpah akan menyatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Sumpah Amukti Palapa mengantarkan Majapahit ke gerbang kejayaan karena Gajah Mada berhasil mewujudkan ikrarnya.
Wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit mencakup area yang sangat luas, meliputi Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, bahkan hingga Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara, Sulawesi, dan sebagian Maluku. Ada 98 kerajaan kecil yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit.
Tak hanya di bumi Nusantara, pengaruh dan ekspansi Kerajaan Majapahit juga menjangkau negeri-negeri seberang, mulai dari Semenanjung Malaya (Malaysia dan Brunei), Tumasik (Singapura), juga sebagian Thailand dan Filipina.
Pada tahun 1364, Mahapatih Gajah Mada wafat dan ternyata, hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Kerajaan Majapahit mulai melemah. Karena sangat menghormati sang penasihat, Hayam Wuruk tidak mau menunjuk orang lain untuk menjadi mahapatih.
Bagi Hayam Wuruk, Gajah Mada adalah segalanya. Tak heran, ketika Gajah Mada wafat, Hayam Wuruk pun limbung. Akibatnya, Kerajaan Majapahit pun semakin goyah. Stabilitas kerajaan goyah sehingga beberapa negeri yang sudah ditaklukkan berusaha melepaskan diri.
Hayam Wuruk meninggal menyusul mahapatih kepercayaannya pada tahun 1389. Peristiwa ini kemudian memicu polemik mengenai proses suksesi raja baru. Perselisihan keluarga pun tak terhindarkan dan hal ini semakin melemahkan kerajaan.
Adanya kisruh dalam keluarga istana terbukti dengan terjadinya Perang Paregreg antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Keduanya memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Raja Hayam Wuruk sehingga sama-sama mengklaim sebagai penerus takhta Majapahit.
Wikramawardhana adalah suami putri Hayam Wuruk dari sang permaisuri, sedangkan Bhre Wirabhumi adalah putra Hayam Wuruk dari istri selir. Selain tidak adanya pemimpin kuat setelah Hayam Wuruk, perang saudara ini juga menjadi penyebab kemunduran Majapahit.
Setelah Perang Paregreg, Kerajaan Majapahit memang masih bertahan cukup lama. Bahkan, pada masa pemerintahan Ratu Suhita, kerajaan ini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Namun, pada periode 1453–1456, Majapahit justru mengalami kekosongan kepemimpinan.
Kejayaan Majapahit semakin menuju kehancuran ketika Kesultanan Demak, muncul pada tahun 1475. Berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa ini tak hanya mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit, tetapi juga memiliki jejak penting dalam sejarah Nusantara.
Perjalanan sejarah Nusantara yang sebelumnya didominasi era Hindu-Buddha cukup lama berganti dengan periode Islam setelah Kesultanan Demak muncul. Meski saat itu masih ada, Kerajaan Majapahit tidak punya peran lagi dan keruntuhannya hanya menunggu waktu saja.
Sistem Pemerintahan Kerajaan Majapahit
Sistem pemerintahan dan birokrasi di Kerajaan Majapahit baru berjalan dengan teratur pada masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa oleh masyarakat. Para putra serta kerabat dekat raja diberi kedudukan yang tinggi.
Dalam menjalankan pemerintahannya, raja-raja Majapahit dibantu para pejabat birokrasi, yaitu:
- Rakryan Mahamantri Katrini, yang biasanya dijabat putra-putra raja;
- Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, yaitu dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan;
- Dharmmadhyaksa, yaitu para pejabat hukum keagamaan; dan
- Dharmma-upapatti, yaitu para pejabat keagamaan.
Di dalam dewan menteri, terdapat seorang pejabat yang paling penting, yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubumi, yaitu perdana menteri yang melaksanakan kebijakan raja. Di samping itu, ada juga dewan pertimbangan kerajaan yang beranggotakan kerabat raja.
Raja Hayam Wuruk juga melakukan pembagian wilayah kerajaan dengan teratur, yaitu sebagai berikut.
- Bhumi : kerajaan, dipimpin raja.
- Negara : setingkat propinsi, dipimpin raja atau natha yang sering juga disebut bhre.
- Watek : setingkat kabupaten, dipimpin wiyasa.
- Kuwu : setingkat kelurahan, dipimpin lurah.
- Wanua : setingkat desa, dipimpin thani
- Kabuyutan : setingkat dusun atau tempat-tempat sakral.
Raja-Raja Kerajaan Majapahit
Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Majapahit merupakan penerus dari keluarga Kerajaan Singasari. Kerajaan ini sendiri dirintis Sri Ranggah Rajasa, pendiri Wangsa Rajasa pada akhir abad ke-13.
Nama raja-raja yang pernah memegang tampuk pimpinan sepanjang sejarah Kerajaan Majapahit beserta gelar dan periode pemerintahannya adalah seperti berikut ini.
- Tahun 1293–1309 : Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana)
- Tahun 1309–1328 : Kalagamet (Sri Jayanagara)
- Tahun 1328–1350 : Sri Gitarja (Tribhuwana Wijayatunggadewi)
- Tahun 1350–1389 : Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara)
- Tahun 1389–1429 : Wikramawardhana
- Tahun 1429–1447 : Suhita (Dyah Ayu Kencana Wungu)
- Tahun 1447–1451 : Kertawijaya (Brawijaya I)
- Tahun 1451–1453 : Rajasawardhana (Brawijaya II)
- Tahun 1456–1466 : Purwawisesa atau Girishawardhana (Brawijaya III)
- Tahun 1466–1468 : Bhre Pandansalas atau Suraprabhawa (Brawijaya IV)
- Tahun 1468–1478 : Bhre Kertabumi (Brawijaya V)
- Tahun 1478–1498 : Girindrawardhana (Brawijaya VI)
- Tahun 1498–1518 : Patih Udara
Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit
Dengan lokasi yang strategis, Majapahit menjadi kerajaan yang sangat kaya karena setiap barang yang akan dikirim melalui wilayahnya harus membayar pajak. Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk (1350–1389).
Dalam menjalankan pemerintahan, Hayam Wuruk dibantu perdana menteri kepercayaannya, Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Ikrarnya tersebut dibuktikan dengan keberhasilannya menyatukan Sumatra, Jawa, dan Bali ke dalam wilayah Kerajaan Majapahit.
Peninggalan Kerajaan Majapahit
Perjalanan Kerajaan Majapahit merupakan bagian penting dalam sejarah Nusantara yang tidak boleh dilupakan. Bahkan, bukti kejayaan kerajaan ini masih bisa disaksikan hingga sekarang melalui peninggalan yang sangat banyak, baik berupa candi, prasasti, maupun kitab.
1. Candi Surawana
Nama Surawana atau Candi Wishnubhawanapura dibangun pada abad ke-14. Terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kediri, candi ini dibangun dengan tujuan untuk mengagungkan Bhre Wengker, seorang raja Kerajaan Wengker yang berada di bawah Kerajaan Majapahit.
Candi Surawana berukuran 8×8 meter dan dibuat dari batu andesit. Saat ini, kondisi Candi Surawana sudah tidak utuh lagi. Bagian badan dan atap bangunannya sudah hancur, hanya menyisakan bagian bagian dasar atau kaki setinggi 3 meter yang sudah mengalami rekonstruksi.
2. Candi Tikus
Terletak di area situs arkeologi Trowulan di Dukuh Jambu Mente, Trowulan, Mojokerto, Candi Tikus merupakan candi bawah tanah. Candi ini ditemukan pada tahun 1914 dan pernah dipugar sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1984 dan 1985.
Konon, saat ditemukan, candi ini menjadi sarang tikus sehingga bangunan ini dikenal dengan nama Candi Tikus. Terdapatnya miniatur menara yang merupakan ciri khas bangunan abad ke-13 hingga ke-14 menunjukkan, Candi Tikus dibangun pada masa tersebut.
3. Candi Jabung
Candi yang terbuat dari susunan bata merah ini dinamakan Candi Jabung, sesuai lokasi penemuannya, yaitu di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Probolinggo. Kabarnya, Hayam Wuruk pernah singgah di candi bercorak Hindu ini.
Candi Jabung berukuran 35×40 meter dengan tingi 16,2 meter. Candi ini terdiri dari dua bangunan utama, yaitu bangunan berukuran besar dan berukuran kecil yang disebut Candi Sudut. Pemugaran candi dilakukan pada tahun 1983–1987.
4. Candi Pari
Candi Pari terletak di Kecamatan Porong, Sidoarjo dan dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk antara tahun 1350–1389. Candi ini dibangun untuk mengenang hilangnya adik angkat dan sahabat putra Prabu Brawijaya yang menolak tinggal di keraton kerajaan.
Berbentuk persegi empat seperti pura di Bali, candi ini dibuat dari batu bara. Namun, pada bagian atas pintu candi, dulunya terdapat batu tua yang jika diperhatikan, arsitekturnya sangat dipengaruhi kebudayaan Campa, Vietnam.
5. Candi Brahu
Nama Candi Brahu berasal dari kata wanaru atau warahu (bangunan suci) yang tercantum dalam Prasasti Aalasantan yang ditemukan tak jauh dari candi. Candi Brahu merupakan tempat pembakaran jenazah raja-raja.
Menurut para ahli, Candi Brahu dibangun pada abad ke-15 dengan gaya Buddha dari batu bata merah. Panjang candi ini adalah 22,4 meter, lebarnya 18 meter, dan tinggi 20 meter. Lokasinya masih termasuk kawasan situs arkeologi Trowulan di Dukuh Jambu Mente, Trowulan.
6. Candi Wringin Branjang
Dibandingkan candi lainnya, Candi Wringin Branjang memiliki bentuk yang sangat khas. Bentuk bangunan candi ini sangat sederhana, hanya terdiri dari atap dan badan saja. Tidak ada relief seperti pada candi lainnya karena konon, candi ini adalah tempat penyimpanan alat upacara.
Candi ini terletak di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Blitar dengan panjang 4 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 5 meter. Pada salah satu sisinya, terdapat pintu masuk dengan lebar 1 meter dan tinggi 2 meter.
7. Candi Sukuh
Dibangun pada tahun 1437, Candi Sukuh termasuk jenis candi Hindu dengan bentuk seperti piramid. Candi yang terletak di Desa Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ini unik karena banyak terdapat objek lingga dan yoni serta relief yang memperlihatkan organ intim manusia.
8. Candi Cetho
Candi bercorak Hindu ini ditemukan pada tahun 1842 dan sering digunakan para peziarah Hindu sebagai tempat pemujaan. Pada candi yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Karanganyar ini terdapat 13 buah teras dan anak tangga yang dilengkapi arca dan punden.
Di atas Candi Cetho, terdapat puri yang disebut Puri Saraswati. Relief yang terukir pada candi ini berbentuk tubuh manusia seperti dengan posisi seperti wayang kulit, yaitu tubuhnya menghadap ke arah depan, tetapi wajahnya menghadap ke samping.
9. Candi/Gapura Wringin Lawang
Nama Wringin Lawang berasal dari bahasa Jawa yang berarti pintu beringin. Terletak di Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, candi ini dibangun pada abad ke-14. Material yang digunakan adalah batu bata merah dengan ukuran candi 13×11 meter dan tinggi 15,5 meter.
10. Candi/Gapura Bajang Ratu
Berlokasi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Bangunan ini merupakan pintu masuk menuju bangunan suci tempat memperingati wafatnya Raha Jayanegara pada tahun 1328 M.
11. Prasasti Maribong
Prasasti ini juga dikenal dengan nama Prasasti Trowulan II dan bertarikh 1264. Adapun isi dari prasasti ini adalah keterangan yang menyatakan bahwa pada tahun tersebut, Raja Wisnuwardhana membebaskan rakyat Maribong dari pajak.
12. Prasasti Alasantan
Prasasti berupa lempengan tembaga ini disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti ini berisi penjelasan bahwa pada tahun 861 Saka atau 939 M, Raja Majapahit, Rakai Halu Dyah Sindok, memberikan wilayah Alasantan kepada Rakryan Kabayan.
13. Prasasti Kududa
Karena ditemukan di Gunung Butak, prasasti ini juga sering disebut Prasasti Gunung Butak. Tulisan pada prasasti ini menggunakan aksara kawi yang diukir pada tembaga. Diperkirakan, prasasti ini diciptakan pada masa kekuasaan Raden Wijaya.
14. Prasasti Hara Hara
Prasasti ini berisi kisah pewarisan tanah yang dilakukan Mpu Mano kepada Mpu Susuk Pager dan Nairanjana. Di tanah tersebut, akan dibangun tempat pemujaan. Tarikh yang tertera pada prasasti ini adalah 888 Saka atau 966 Masehi.
15. Prasasti Wurare
Prasasti Wurare bertarikh 1211 Saka atau sama dengan tahun 1289 Masehi dan ditulis dalam bahasa Sanskerta. Isi prasasti ini adalah keterangan bahwa wilayah Janggala dan Panjalu berhasil dipersatukan kembali dan menjadi bukti kekuasaan Kerajaan Majapahit.
16. Prasasti Kamban
Ditulis dalam bahasa Kawi, prasasti ini berisi catatan sejarah bahwa pada tahun 941, Sri Maharaja Rake Hiko secara resmi menjadikan Desa Kamban sebagai sebuah desa perdikan atau daerah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.
17. Kitab Sutasoma
Kitab ini pasti sudah sangat kamu kenal. Ditulis oleh Mpu Tantular, Kitab Sutasoma berisi kisah dan riwayat tentang seorang bernama Sutasoma. Sutasoma adalah seorang anak raja yang memilih untuk menjadi pendeta Buddha.
18. Kitab Negarffakertagama
Kitab ini ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, berisi berisi sejarah raja-raja, baik raja dari Kerajaan Singasari maupun Kerajaan Majapahit. Kitab ini juga menggambarkan kondisi Majapahit dan daerah kekuasaannya serta perjalanan Hayam Wuruk ke pelosok Jawa Timur.
19. Kitab Pararaton
Tidak jauh berbeda dengan Kitab Negarakertagama, Kitab Pararaton juga mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama masa keemasan Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit.
20. Kitab Kunjarafkarna dan Prrthayajna
Hingga sekarang, penulis kedua kitab ini belum diketahui pasti. Kitab ini berisi kisah raksasa bernama Kunjarakarna yang ingin berubah wufjud menjadi manusia. Selain itu, ada juga kisah perjalanan Pandawa saat mengembara di hutan setelah kadu dadu dengan Kurawa.
21. Kitab Arjunawifwaha
Kitab ini ditulis oleh pengarang Kitab Sutasoma, Mpu Tantular. Dalam kitab ini, kamu bisa membaca kisah raja raksasa yang berhasil dikalahkan oleh Raja Arjunasasrabahu.
Sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia, sudah selayaknya para generasi muda mengetahui sejarah Kerajaan Majapahit. Banyak sekali pelajaran yang bisa kamu dapatkan dengan mempelajari sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara.3fff